Tafsir Al-Fatihah Ayat Keenam: Jalan yang Lurus
Tafsir Al-Fatihah Ayat Keenam: Jalan yang Lurus adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tafsir Al-Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Nasrullah, M.A. pada Sabtu, 14 Rajab 1447 H / 3 Januari 2026 M.
Kajian Islam Tentang Tafsir Al-Fatihah Ayat Keenam: Jalan yang Lurus
قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ…
“Aku membagi shalat (Surah Al-Fatihah) menjadi dua bagian antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي
Apabila hamba mengucapkan: Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku (dengan cinta dan penuh pengagungan).”
وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي
Apabila hamba mengucapkan: Ar-Rahmanir Rahim (Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku (berulang-ulang).”
وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي -وَقَالَ مَرَّةً: فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي
Apabila hamba mengucapkan: Maliki Yaumiddin (Pemilik hari pembalasan), Allah berfirman: “Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.”
فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ}، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Apabila hamba mengucapkan: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan), Allah berfirman: “Ini adalah bagian antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.”
فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ}، قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ
Apabila hamba mengucapkan: Ihdinash shiratal mustaqim, shiratal ladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdubi ‘alaihim waladh-dhallin (Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat), Allah berfirman: “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim).
Hadits tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa saat seseorang shalat, ia pada hakikatnya sedang menghadap dan bermunajat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh karena itu, sangat tidak pantas bagi seorang hamba melafazkan ayat-ayat Al-Qur’an sementara hatinya lalai dan pikirannya tidak fokus.
Seseorang yang memohon petunjuk jalan yang lurus namun hatinya berkelana ke mana-mana menunjukkan kurangnya penghormatan. Secara logika manusia, mengajukan proposal kepada sesama makhluk tanpa memperhatikan lawan bicara dianggap tidak sopan. Maka, menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala semestinya dilakukan dengan penuh kekhusyukan.
Mencapai kekhusyukan memang tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan. Kesulitan biasanya hanya terasa di awal perjuangan, namun akan menjadi ringan jika sudah terbiasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin khusyuk. Sebaliknya, orang yang membiarkan dirinya tidak fokus sejak awal shalat dikhawatirkan akan terus berada dalam kebiasaan buruk tersebut.
Para salafush shalih telah memberikan teladan dalam memperbanyak dzikir di sela-sela aktivitas. Sebaliknya, manusia zaman sekarang sering kali justru mengingat aktivitas duniawi di saat seharusnya berdzikir. Salah satu cara mentadabburi Al-Qur’an adalah dengan membacanya secara perlahan dan tenang.
Ibadah shalat sebenarnya tidak memakan waktu lama. Shalat wajib yang paling panjang, seperti Subuh atau shalat empat rakaat, biasanya tidak lebih dari 15 menit. Seorang hamba hanya dituntut untuk sabar dan berusaha khusyuk dalam waktu yang singkat tersebut. Ketidakmampuan untuk betah dalam shalat, sementara mampu bertahan lama saat beraktivitas dengan HP atau urusan duniawi, menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan pada kondisi fisik, melainkan kondisi hati. Kekuatan seorang mukmin terletak pada keimanannya. Orang yang sudah lanjut usia bisa saja salat berjam-jam karena hatinya kuat, sementara yang muda dan sehat bisa jadi tidak betah meskipun hanya sebentar.
Tafsir Ayat Keenam: Jalan yang Lurus
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam ayat keenam Surah Al-Fatihah:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah [1]: 6).
Ihdina bermakna permohonan agar Allah memberikan petunjuk, sedangkan Ash-shiratal mustaqim adalah jalan yang lurus tanpa kebengkokan sedikit pun yang dapat mengantarkan seorang hamba menuju surga. Para ahli tafsir menjelaskan bahwa maksud dari jalan yang lurus adalah Al-Haq (kebenaran), Islam, atau jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meskipun redaksinya berbeda, hakikatnya tetap sama karena Islam adalah kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Permohonan hidayah dalam ayat ini mencakup dua hal penting:
- Hidayatul Irsyad: Petunjuk berupa pengetahuan dan penjelasan mengenai jalan kebenaran.
- Hidayatul Taufik: Cahaya yang Allah berikan ke dalam hati seseorang sehingga ia mampu mengikuti petunjuk tersebut.
Saat mengucapkan ayat ini, seorang hamba memohon agar dapat mengenal kebenaran sekaligus diberi kekuatan untuk mengikutinya. Hamba juga memohon agar kebatilan tampak jelas di matanya sehingga dapat dihindari. Dalam berdakwah, tugas manusia hanyalah menyampaikan dan mengajak (irsyad), karena kemampuan untuk mengubah hati seseorang (taufik) murni merupakan wewenang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, usaha dalam menyampaikan kebenaran harus selalu disertai dengan doa.
Ilmu yang Tidak Diamalkan
Tidak setiap orang yang mengetahui kebenaran bersedia mengikutinya. Hal ini dapat dilihat pada beberapa contoh berikut:
Ahlul Kitab: Orang-orang Yahudi dan Nasrani terdahulu memiliki ilmu dari kitab mereka mengenai kedatangan nabi akhir zaman. Namun, ketika nabi tersebut muncul dan ternyata bukan dari golongan mereka, mereka menolak untuk beriman meskipun mereka mengetahui kebenarannya.
Kafir Quraisy: Sebagai bangsa yang paham keindahan bahasa Arab, mereka menyadari bahwa Al-Qur’anul Karim mustahil merupakan perkataan manusia atau setan. Namun, mereka justru menuduh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai dukun atau menyebut Al-Qur’an sebagai dongeng orang terdahulu.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menantang mereka melalui firman-Nya:
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.`” (QS. Al-Isra [17]: 88).
Meski ditantang untuk membuat satu surah saja, mereka tidak mampu melakukannya. Ketidakmampuan tersebut membuktikan bahwa Al-Qur’anul Karim bukanlah perkataan setan atau hasil mengambil dari orang terdahulu, melainkan murni firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Realitas menunjukkan bahwa kaum kafir tetap tidak mau beriman meskipun mereka mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menghidupkan kembali manusia. Mereka meyakini bahwa Allah yang menciptakan bumi, langit, dan manusia dari ketiadaan menjadi ada. Logika sederhana semestinya menuntun pada pemahaman bahwa Dzat yang menciptakan segalanya dari ketiadaan pasti mampu menghidupkan kembali makhluk yang telah mati.
Kaum kafir juga mengenal sifat, akhlak, kejujuran, serta amanah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi, pengenalan tersebut tidak serta-merta membuat mereka beriman. Hal ini memberikan pelajaran berharga bahwa pengetahuan semata belum tentu mampu mengubah kekufuran. Karena kekufuran bersemayam di dalam hati, sedangkan akal berfungsi sebagai penyimpan memori dan pengetahuan. Jika hati menolak beriman, akal tidak akan dapat menerima kebenaran. Saat hati dipenuhi kekufuran, seluruh anggota tubuh akan mengikuti kondisi tersebut.
Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak penjelasan yang penuh manfaat ini..
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Al-Fatihah Ayat Keenam: Jalan yang Lurus” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/55953-tafsir-al-fatihah-ayat-keenam-jalan-yang-lurus/